Berita hari ini: Sabtu, 25 Maret 2017

Perkembangan berita terbaru yang perlu Anda ketahui.

DIBERHENTIKAN. Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Ishomuddin resmi diberhentikan usai memberikan kesaksian yang dianggap meringankan Ahok di persidangan hari Selasa kemarin. Foto dari situs Baznas

%

%

%

%

%

%

%

%

Hello!

Halo pembaca Rappler,

Pantau terus laman ini untuk memperbarui berita terbaru pilihan redaksi Rappler Indonesia pada Sabtu, 25 Maret 2017.

Ahok: Kita enggak jadi gubernur itu urusan Tuhan

KUNJUNGAN. Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyapa warga saat kunjungan ke kawasan Kompleks Uka, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta, Jumat, 24 Maret. Foto oleh Aprilio Akbar/ANTARA

KUNJUNGAN. Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyapa warga saat kunjungan ke kawasan Kompleks Uka, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta, Jumat, 24 Maret. Foto oleh Aprilio Akbar/ANTARA

Calon gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama mengaku yakin semua hal yang terjadi pada dirinya sudah ditentukan oleh Tuhan. Termasuk, hasil akhir Pilkada DKI putaran kedua yang akan digelar pada tanggal 19 April nanti.

Hal itu disampaikan Ahok di hadapan para guru non-PNS yang hadir dalam acara deklarasi forum guru non-PNS untuk Ahok-Djarot di Posko Rumah Badja, di Menteng.

“Kita enggak jadi gubernur itu urusan Tuhan. Walaupun kita berusaha. Kalau kata orang Islam man jadda wa jadda. Semua urusan Tuhan. Kalau seandainya Tuhan izinkan tidak jadi pun…” ujar Ahok yang tiba-tiba terhenti dan tidak melanjutkan kalimatnya.

Pernyataan itu disampaikan ketika sebagian dari peserta melontarkan permintaan agar Ahok tidak melontarkan kalimat berbau pesimistis. Namun, mantan Bupati Belitung Timur itu kembali mengatakan apa pun yang akan terjadi di Pilkada DKI putaran kedua, itu merupakan keinginan Tuhan.

“Bukannya tidak semangat. Kita sudah berusaha. Saya selalu berdoa seperti itu. Kalau Tuhan memang pengen saya jadi pejabat, saya akan kerjakan semaksimal saya. Tapi, kalau Tuhan tidak memilih saya pun, saya bersyukur,” katanya lagi.

Selengkapnya baca di sini.

Kapolda Metro Jaya datangi Gereja Santa Clara, untuk apa?

KEAMANAN. Personel Brimob Polda Metro Jaya berada di lokasi pembangunan Gereja Santa Clara, di kawasan Harapan Baru, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 25 Maret. Aparat di lokasi itu guna menjaga keamanan karena sejumlah warga setempat sempat memprotes pembangunan Gereja tersebut. Foto oleh Risky Andrianto/ANTARA

KEAMANAN. Personel Brimob Polda Metro Jaya berada di lokasi pembangunan Gereja Santa Clara, di kawasan Harapan Baru, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 25 Maret. Aparat di lokasi itu guna menjaga keamanan karena sejumlah warga setempat sempat memprotes pembangunan Gereja tersebut. Foto oleh Risky Andrianto/ANTARA

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Mochammad Iriawan mengunjungi lokasi pembangunan Gereja Santa Clara, di Bekasi Utara yang sehari sebelumnya didemo oleh ormas agama. Mereka menolak dibangun rumah ibadah di area seluas 6.500 meter persegi itu.

Lalu, untuk apa Iriawan datang ke sana?

“Kedatangan saya ke lokasi pembangunan Gereja Santa Clara untuk meminta kepastian data konkret dari pihak yang berkaitan,” ujar Iriawan di Bekasi.

Di sana, dia sempat berbincang santai dengan pastor dan perwakilan jemaat gereja untuk mengetahui jumlah anggota jemaat dan proses penyelesaian izin bangunan. Berdasarkan data yang dia dengar, ada 9.240 jemaat Katolik di wilayah ini.

“Setiap Minggu pagi dan siang, ada sekitar 2.000 umat dari mereka yang beribadah di sini,” katanya.

Iriawan enggan mengomentari aksi demonstrasi yang menolak agar gereja dibangun di area itu. Dia hanya menyebut akan memastikan semua dokumen yang sudah dikantongi oleh pihak gereja. Kemudian mereka akan berkoordinasi dengan Polres Metro Bekasi Kota. Selengkapnya baca di sini.

Dua tahun dibiarkan kosong, penjaga kamar kost Akseyna merugi hampir Rp 14 juta

TEWAS TENGGELAM. Jasad Akseyna Ahad Dori ditemukan mengambang di Danau Kenanga Universitas Indonesia dua tahun lalu. Belum diketahui apakah Akseyna tewas akibat dibunuh atau bunuh diri. Ilustrasi oleh Rappler

TEWAS TENGGELAM. Jasad Akseyna Ahad Dori ditemukan mengambang di Danau Kenanga Universitas Indonesia dua tahun lalu. Belum diketahui apakah Akseyna tewas akibat dibunuh atau bunuh diri. Ilustrasi oleh Rappler

Kasus tewasnya mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori hingga saat ini belum terpecahkan oleh polisi. Hal tersebut ternyata tidak saja merugikan keluarga korban tetapi juga pemilik kamar kost tempat Akseyna pernah menyewa.

Sejak Juli 2014, Akseyna tinggal di kamar 208 Wisma Widya yang berlokasi tak jauh dari kampusnya di UI. Selama proses penyelidikan kasus, polisi tidak mengizinkan kamar itu untuk ditempati orang lain.

“Sejak dua tahun kosong. Sebab, polisi belum membolehkan kamar itu disewakan kembali,” ujar penjaga rumah kost Wisma Widya, Edi Sukardi.

Sewa per bulan kamar yang dihuni Akseyna sebesar Rp 550 ribu. Namun, sejak 2016 harga sewa kamarnya naik menjadi Rp 600 ribu. Karena polisi belum boleh mengizinkan kamar itu ditempat, total kerugian yang dialami pemilik sudah mencapai hampir Rp 14 juta.

Walau kasus kematian Akseyna belum terungkap, tetapi Edi ingin menanyai pihak kepolisian kira-kira kapan kamar Akseyna bisa disewakan kembali. Dari 27 kamar yang ada di Wisma Widya, hanya kamar Akseyna yang masih kosong.

“Doa dan harapan saya, kalau memang dia dibunuh, pelakunya cepat ditangkap, sebab kasusnya sudah berlangsung dua tahun,” kata dia. Selengkapnya baca di sini.

Usai berikan kesaksian di sidang Ahok, Ahmad Ishomuddin diberhentikan MUI

DIBERHENTIKAN. Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Ishomuddin resmi diberhentikan usai memberikan kesaksian yang dianggap meringankan Ahok di persidangan hari Selasa kemarin. Foto dari situs Baznas

DIBERHENTIKAN. Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Ishomuddin resmi diberhentikan usai memberikan kesaksian yang dianggap meringankan Ahok di persidangan hari Selasa kemarin. Foto dari situs Baznas

Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Ishomuddin akhirnya resmi diberhentikan dari organisasi tempat dia sempat bernaung. Pemberhentian itu terjadi tak lama setelah dia menjadi saksi dalam kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non aktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama pada Selasa kemarin.

Pernyataan yang disampaikan Ishomuddin dinilai oleh sebagian besar publik meringankan Ahok. Pemberhentian Ishomuddin dibenarkan oleh Wakil Ketua MUI, Zainut Tauhid Sa’adi. Namun, dia membantah jika pemberhentian Ishomuddin tersebut karena dia menjadi saksi dalam kasus persidangan Ahok.

Dia diberhentikan karena sudah tidak lagi aktif dalam kepengurusan MUI. Pemberhentian Ishomuddin diputuskan dalam rapat pimpinan MUI pada Selasa kemarin.

“Berkaitan dengan berita tentang pemberitaan Saudara Ishomuddin dari kepengurusan MUI, hal tersebut adalah benar,” ujar Zainut kepada media.

MUI mengaku memiliki evaluasi berkala terhadap keaktifan seluruh pengurusnya. Di mata mereka, Ishomuddin sudah mulai jarang terlihat dalam rapat dan kegiatan MUI lainnya.

Dalam persidangan Ahok, Rais Syuriah PBNU Jakarta itu memberikan kesaksian yang berbeda dengan pakar agama yang diajukan oleh JPU yaitu Rizieq Shihab dan Ketua MUI, Ma’ruf Amin.

“Berdasarkan tafsir yang saya tahu, ‘aulia’ itu bermakna teman setia. Kalau ada yang menerjemahkan sebagai pemimpin, silakan. Tetapi, menurut tafsir saya, dari ratusan kitab tafsir, tidak ada satu pun yang memiliki makna pemimpin,” katanya ketika bersaksi di persidangan. Selengkapnya baca di sini. - Rappler.com

Ayo langganan Indonesia wRap