Berita hari ini: Minggu, 25 Juni 2017

Perkembangan berita terbaru yang perlu Anda ketahui

%

%

%

%

%

%

%

%

Hello!

Hallo pembaca Rappler!

Pantau terus laman ini untuk memperbarui berita terbaru pilihan redaksi Rappler Indonesia pada Minggu, 25 Juni 2017.

Presiden Donald Trump akhiri tradisi berbuka puasa di Gedung Putih

TRADISI. Presiden Donald Trump dobrak tradisi dengan tidak menggelar buka puasa di Gedung Putih pada bulan Ramadan. Padahal, tradisi itu dilakukan sejak Presiden Bill Clinton hingga Barack Obama. Foto oleh Mandel Ngan/AFP

TRADISI. Presiden Donald Trump dobrak tradisi dengan tidak menggelar buka puasa di Gedung Putih pada bulan Ramadan. Padahal, tradisi itu dilakukan sejak Presiden Bill Clinton hingga Barack Obama. Foto oleh Mandel Ngan/AFP

Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, Gedung Putih memilih untuk tidak menggelar buka puasa untuk memperingati Ramadan, satu bulan yang dianggap suci oleh umat Muslim. Alih-alih Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania merilis pernyataan tertulis pada Sabtu kemarin kepada umat Muslim.

“Umat Muslim di Amerika Serikat bersama Muslim lainnya di seluruh dunia selama bulan Ramadan kemarin fokus kepada perbuatan amal dan kebaikan,” tulis Trump.

Kini, di saat memasuki Idul Fitri, umat Muslim terus melanjutkan tradisi untuk membantu tetangga dan bersuka cita bersama orang-orang dari berbagai lapisan.

Dengan demikian, maka Trump tercatat sebagai Presiden pertama yang memutus tradisi berbuka puasa di Gedung Putih. Padahal, sebelumnya tradisi itu terus dilakukan dimulai dari Presiden Bill Clinton, lalu berlanjut ke Presiden George W. Bush dan Barack Obama. Biasanya, mereka akan mengundang anggota komunitas Muslim yang dikenal publik, anggota Kongres dan diplomat dari negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

Langkah Trump ini rupanya juga ditiru oleh Menlu Rex Tillerson. Dari informasi orang di dalam Departemen Luar Negeri, Tillerson menolak permintaan dari kantor agama dan urusan global untuk mengadakan resepsi yang menandai perayaan Idul Fitri.

Padahal, para pendahulu Tillerson baik dari Partai Republik atau Demokrat kerap menggelar resepsi buka puasa atau Idul Fitri. Selengkapnya baca di sini.

Presiden Taiwan ucapkan selamat Idul Fitri dalam Bahasa Indonesia

BAHASA INDONESIA. Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen mengucapkan selamat Idul Fitri kepada umat Muslim di seluruh dunia menggunakan Bahasa Indonesia. Foto oleh Sam Yeh/AFP

BAHASA INDONESIA. Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen mengucapkan selamat Idul Fitri kepada umat Muslim di seluruh dunia menggunakan Bahasa Indonesia. Foto oleh Sam Yeh/AFP

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada Muslim di seluruh dunia. Namun, yang unik di bagian akhir dia menggunakan Bahasa Indonesia kalimat “Selamat Idul Fitri”.

Direktur Divisi Informasi Pers Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) Ismail Mae mengatakan ini merupakan kali pertama bagi Presiden Tsai menggunakan Bahasa Indonesia ketika mengucapkan selamat hari raya bagi umat Islam. Tsai juga menyampaikan terima kasih kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atas sumbangsih mereka bagi pembangunan Taiwan.

Dalam satu tahun terakhir ini, Pemerintah Taiwan memang mendorong kebijakan ke arah selatan (New Southbound Policy) untuk meningkatkan hubungan kerja sama dengan perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Dengan adanya hubungan baik yang selama ini telah terjalin terutama di bidang ekonomi, sosial dan budaya, Presiden Tsai mengarahkan diplomasi ke selatan, termasuk ASEAN.

Indonesia dan Taiwan selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik, karena RI menganut kebijakan satu China (One China Policy) ke Republik Rakyat China (RRC). Selengkapnya baca di sini.

Kapolri: Polisi disasar ISIS karena dianggap sebagai kafir harbi

JENGUK. Kapolri Jenderal Tito Karnavian (tengah) memberikan keterangan kepada sejumlah media seusai menjenguk Kapolsek Tangerang dan anggotanya yang menjadi korban penusukan simpatisan ISIS di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, Banten, Jumat, 21 Oktober 2016. Foto oleh Moko WH/ANTARA

JENGUK. Kapolri Jenderal Tito Karnavian (tengah) memberikan keterangan kepada sejumlah media seusai menjenguk Kapolsek Tangerang dan anggotanya yang menjadi korban penusukan simpatisan ISIS di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, Banten, Jumat, 21 Oktober 2016. Foto oleh Moko WH/ANTARA

Personel kepolisian kembali dijadikan target teror jelang perayaan Idul Fitri. Kali ini yang menjadi sasaran adalah pos jaga di Mapolda Sumatera Utara.

Satu personel polisi bernama Martua Sigalingging tewas akibat terkena luka tusukan yang dilakukan oleh salah seorang pelaku. Sementara, polisi sudah berhasil melumpuhkan dua pelaku.

Satu pelaku ditembak mati, sedangkan sisa satu pelaku lainnya ditembak di bagian kaki. Ini menjadi teror kesekian terhadap personel Polri.

Pada 24 Mei lalu, personel polisi juga menjadi sasaran bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu. Empat personel polisi saat itu tewas.

Lalu, apa yang menyebabkan polisi kerap dijadikan sasaran oleh teroris? Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan polisi kerap dianggap sebagai kafir harbi oleh para teroris.

Doktrin ISIS kata Tito dibentuk oleh dua komponen utama yaitu tauhid wal jihad di Irak serta komponen eks militer Saddam Hussein yang dibubarkan. Sehingga, ideologi yang dibawa oleh mereka adalah tauhid wal jihad adalah takfiri.

Dia menjelaskan dalam ideologi takfiti yang dianut oleh ISIS konsep utamanya adalah tauhid. Sehingga, ideologi yang tidak berdasarkan tauhid dianggap haram dan kafir. Pembela ideologi yang tidak berdasarkan tauhid disebut thagut, termasuk Polri.

Ideologi yang dianut ISIS itu menentang demokrasi dan Pancasila. Sehingga, orang yang menganut ideologi Pancasila, termasuk elemen pendukung negara seperti Polri dan TNI adalah kafir.

Seolah bernostalgia, Anies Baswedan silaturahmi ke Istana Negara

SILATURAHMI. Presiden Joko Widodo (kiri) menerima Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan (kedua kiri) beserta keluarga saat silaturahmi dan halalbihalal Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Minggu, 25 Juni. Foto oleh Puspa Perwitasari/ANTARA

SILATURAHMI. Presiden Joko Widodo (kiri) menerima Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan (kedua kiri) beserta keluarga saat silaturahmi dan halalbihalal Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Minggu, 25 Juni. Foto oleh Puspa Perwitasari/ANTARA

Gubernur DKI terpilih Anies Baswedan kembali bernostalgia ikut silaturahmi ke Istana Negara. Terakhir kali dia melakukan hal itu pada waktu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Anies datang didampingi wakil gubernur terpilih Sandiaga Uno dan keluarga masing-masing.

“Satu, dua, tiga,” kata Jokowi menghitung anak-anak Anies yang ikut dibawa untuk bersilaturahmi ke Istana Negara Jakarta.

Keempat anak Anies yakni Mutiara Annisa Baswedan, Mikail Azizi Baswedan, Kaisar Hakam Baswedan dan Ismail Hakim Baswedan datang bersama ibu mereka Fery Farhati Ganis. Mereka kompak mengenakan baju putih. Anies mengenakan baju koko berpadanan dengan sarung cokelat saat bersalaman dengan Presiden, sedangkan istrinya, Fery, dan anak perempuannya Mutiara mengenakan gamis putih dengan hiasan bordir bunga di bagian lengan.

"Minal Aidin Wal Faidzin," kata Anies.

Lalu, apa yang dibicarakan Anies dengan mantan bosnya ketika masih berada di Kabinet Kerja itu?

“Tidak ada ngomong kerjaan. Ini lagi Lebaran, hanya saling mengucapkan selamat hari raya dan maaf lahir batin,” kata Anies. Selengkapnya baca di sini.

Militer Filipina umumkan gencatan senjata untuk hormati warga Marawi rayakan Idul Fitri

GENCATAN SENJATA. Militer Filipina memberlakukan gencatan senjata selama delapan jam untuk menghormati umat Muslim di Marawi yang tengah merayakan Idul Fitri. Foto oleh Rappler

GENCATAN SENJATA. Militer Filipina memberlakukan gencatan senjata selama delapan jam untuk menghormati umat Muslim di Marawi yang tengah merayakan Idul Fitri. Foto oleh Rappler

Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) menyatakan delapan jam gencatan senjata dalam peperangan yang tengah berlangsung melawan kelompok militan Maute di kota Marawi. AFP ingin memberikan waktu bagi warga di Kota Marawi untuk dapat merayakan Idul Fitri.

Jenderal Eduardo Ano mengatakan personel militernya akan memberlakukan “jeda kemanusiaan” selama Idul Fitri di kota Marawi, satu area yang dianggap penting bagi umat Muslim di Filipina.

“Kami menyatakan jeda dalam operasi kami saat ini di Marawi pada hari itu sebagai bentuk hormat kami kepada warga yang memeluk Islam,” ujar Ano dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan langkah tersebut ditempuh sebagai komitmen solid AFP untuk memberikan saudara-saudara mereka, umat Muslim, untuk merayakan hari raya. Sejauh ini, warga yang bermukim di kota Marawi telah melarikan diri ke pusat evakuasi atau rumah kerabat lantaran area tersebut sudah berubah menjadi medan pertempuran.

Banyak bangunan di kota Marawi hancur akibat serangan amunisi dari personel militer atau kelompok militan. - Rappler.com

Ayo langganan Indonesia wRap